LP2M: Tradisi Menulis Prosiding Scopus, Perlu dikembangkan di Lingkungan Dosen Soshum.

Dalam kegiatan “Coaching Clinic: Motivasi dan Strategi Tembus Prosiding Internasional Terindeks Scopus” yang diselenggarakan oleh Puslitpen di Studio Pasca sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, berkembang diskusi minimnya tradisi menulis prosiding internasional terindeks scopus di lingkungan dosen-dosen sosial humaniora UIN SGD Bandung (25/02/2020).

Hal itu disampaikan oleh Dr. Wahyudin, sebagai nara sumber coaching clinic yang juga akademisi dari bidang soshum. Menurutnya, Tradisi menulis prosiding terindeks scopus, tantangan yang berat adalah di non sains, sosial-humaniora harus lebih “ilmiah” dalam menulis artikel, dengan benchmark ke MIPA dan Saintek. Rekomendasi kedua , soshum harus berusaha detil, karena umumnya lebih senang aspek-aspek yang general dan global yang tidak terlihat apa yang sedang disampaikan penulis, maka perlu fokus dan detil. Seringkali referensinya sedikit. Soshum tidak senang submit. Kita SDM di bidang soshum, kita harus optimis untuk memperbaiki kendala-kendala tersebut. “Siapa bisa apa harus muncul di publik untuk bisa diakses oleh semua orang, untuk dipelajari,” demikian harapnya.

Berdasarkan data capaian publikasi prosiding scopus di LP2M, kebanyakan berasal dari bidang sains dan teknologi karena tradisi menulis dosennya sudah berkembang cukup baik, dan belum banyak untuk sosial humaniora. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara dan skema untuk mengembangkan tradisi menulis prosiding scopus ini di social humaniora

Dr. Wahyudin juga berusaha mengevaluasi dan meluruskan pernyataan kurang relevan, “Bila ada yang menyatakan bahwa prosiding tidak bisa digunakan untuk naik pangkat, itu kurang relevan. Karena sasaran kita itu bukan untuk naik pangkat, meski sebenarnya prosiding bisa dipakai untuk naik pangkat, tetapi bukan menjadi syarat wajib untuk kenaikan pangkat. Oleh sebab itu, di social humaniora memang menulis itu umumnya untuk kebutuhan naik pangkat. Hampir susah ditemukan bahwa kesadaran menulis itu sebagai sebuah kebutuhan mengekspresikan  atau kebutuhan mengembangkan ilmu pengetahuan, ini belum menjadi tradisi. Hampir kebanyakan di social humaniora itu mengejar terbit di publikasi jurnal reguler. Oleh karena itu, perlu dicari bagaimana caranya, tradisi menulis untuk mengekspresikan dan mengembangkan pengetahuan yang sudah berkembang di sainstek ini, juga berkembang di social humaniora” tambahnya.

Menurut Prof. Ali, bahwa sebenarnya strategi yang utama adalah “Fokus saat menulis, berfikir sederhana tapi berdampak. Jangan bertele-tele dan njlimet. Kelemahan temen2 kita di ilmu sosial humaniora, ketika menulis seakan-akan pinginnya mengubah dunia, semuanya pingin ditulis, tidak focus dan kurag spesifik.  Sementara orang-orang sains mengungkap persoalan yang sangat sederhana tapi fokus dan akurat. Saya punya temen, suatu hari dia menulis sebuah persoalan yg sangat sederhana, lebih efektif mana,  belajar pake LCD proyektor dengan yg tidak pake?. jawabannya tentu kita tahu, yang pake LCD Proyektor lebih efektif, dia tulis persoalan sederhana itu dan tembus di jurnal Internasional Scopus Q2. Mungkin bagi kita bertanya-tanya, maska yagg kaya gini bisa masuk jurnal scopus. Tapi setelah dibaca cukup argumentatif, ada kelas control dan mekanisme lainnya, dia perkuat argumentasinya dengan sangat cerdas,”ceritanya.

Sedangkan Ketua LP2M, Dr. Husnul Qodim menyatakan dukungan dan kesiapannya mengembangkan tadisi menulis prosiding terindeks Scopus. Dia menyatakan, “Tujuan coaching ini memang untuk menyiapkan paper yang layak dibantu pendanaannya untuk konferensi-konferensi internasional serta terbit menjadi prosiding internasional scopus. LP2M pasti akan membantu paper dosen yang diikutkan konferensi dan bisa tembus prosiding internasional scopus. Sekarang tinggal kesiapan para dosen untuk menyiapkan sebanyak-banyaknya paper yang layak. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan akselerasi capaian scopus UIN Bandung yang cukup tinggi, di samping juga untuk tagihan publikasi internasional akreditasi prodi-prodi. Hanya saja, dari data capaian publikasi prosiding scopus di LP2M, kebanyakan berasal dari bidang sains dan teknologi karena tradisi menulis dosennya sudah berkembang cukup baik, dan belum banyak untuk social humaniora. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara dan skema untuk mengembangkan tradisi menulis prosiding scopus ini di social humaniora”.

292total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *